Makalah Konseling Realitas
MAKALAH
KONSELING REALITAS
BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Konseling
realitas dicetuskan oleh William Glasser, yang merupakan suatu bentuk hubungan
pertolongan yang praktis, relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung pada
klien. Perkembangan ini berkembang pada awal tahun 30 an – 60 an. Alasan
Glesser mengembangkan pendekatan ini antara lain ketidakpuasan terhadap
pendekatan psikoanalisis karena pendekatan psikoanalisis kurang efektif dan
efisien. Dan tidak setuju dengan anggapan bahwa pada dasarnya manusia itu baik.
Proses pengembangan Gletser mulai menerbitkan sebuah buku dan dikembangkan di
rumah sakit, tetapi oleh teman-temannya tidak mendapat persetujuan serta
dukungan bahkan ditolak namun hal ini tidak membuat Gletser putus asa.
Dan
dilanjutkan dengan mempraktekkan teorinya di V.A. Hospital disana mendapat
tanggapan baik yang akhirnya teori tersebut dapat berkembang serta diterima
oleh kolega-kolega yang bahkan dulu tidak menyetujuinya. Hal ini berdasarkan
pada konsep terapi realitas dimana seorang klien ditolong agar dia mampu
menghadapi realita di masa depan dengan penuh optimis. Konseling realitas
berprinsip bahwa seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dan
terapi untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan
tanpa merugikan siapapun.
Konseling
realitas lebih menekankan masa kini, maka dalam memberikan alternatif bantuan
tidak usah melacak sejauh mungkin pada masa lalunya, sehingga yang dipentingkan
bagaimana klien dapat sukses mencapai hari depannya, karena manusia dalam
kehidupan mempunyai kebutuhan dasar, yaitu cita dan harga diri. Setiap orang
akan belajar memenuhi kebutuhannya dengan bertingkah laku normal, yaitu 3 R
(Right, Responsibility, dan Reality) dimana masa yang penting dalam penanaman
adalah usia 2-5 tahun dengan peranan orang tua dan sekolah sebagai faktor yang
menentukan.
1.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah perkembangan konseling realitas? 2. Apa itu Hakikat Manusia
Konseling Realitas ? 3. Bagaimana Perkembangan Kepribadian Konseling Realitas ?
4. Apa itu Tujuan Konseling Realitas ? 5. Apa saja teknik-teknik dalam
konseling realitas ? 6. Apa peranan konselor dalam konseling kelompok realitas?
7. Apa saja kelemahan dan kelebihan konseling realitas ?
1.
Tujuan 2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan konseling realitas. 3. Untuk
Mengetahui Hakikat Manusia Konseling Realitas. 4. Untuk Mengetahui Perkembangan
Kepribadian Konseling Realitas. 5. Untuk Mengetahui Tujuan Konseling Realitas.
6. Untuk Mengetahui Teknik Konseling Realitas. 7. Untuk mengetahui peranan
konselor dalam konseling kelompok realitas. 8. Untuk mengetahui kelemahan dan
kelebihan konseling realitas
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Sejrah Perkembangan Konseling Realitas
Konseling
realitas dicetuskan oleh William Glasser yang lahir pada tahun 1925 dan
menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di Cliveland, Obio. Pertumbuhannya
relatif tanpa hambatan, sehingga ia memahami dirinya sebagai lelaki yang baik.
Glasser meninggalkan kota kelahirannya setelah ia masuk ke perguruan tinggi. Ia
memperoleh gelar sarjana muda dalam bidang rekayasa kimia, sarjana psikologi
klinis dan dokter dari Case Western Reserve University.
Pada
tahun 1961 Glasser mempublikasikan konsep konseling realitas dalam bukunya yang
pertama Mental Health or Mental Illness. Konsep ini diperluas, diperbaiki dan
disusun pada penerbitan tahun 1965: Reality Therapy : A New Approach to
Psichiatry. Tidak lama setelah penerbitan yang kedua ini, Glasser membuka
Institute of Reality Therapy yang digunakan untuk melatih profesi-profesi layanan
kemanusiaan. Sebagai kata sambung atas suksesnya, sekolah-sekolah membutuhkan
konsultasi Glasser, dan ia dapat menyesuaikan dengan prosedur- prosedunya
dengan setting sekolah. Ia mempublikasikan ide ini dalam School Without Failure
(1969) dan mendirikan Educatinal Training Centre yang di dalamnya guru-guru
mendapat latihan konseling realitas.
1.
Hakekat Manusia
Konseling
Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relatif
sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli dalam suatu kelompok, yang
dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah dalam rangka mengembangkan
dan membina kepribadian ataupun kesehatan mental konseli secara sukses, dengan
cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Adalah William
Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini.
Menurutnya,
bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang
tunggal, yang hadir di seluruh kehidupannya, sehingga menyebabkan dia memiliki
keunikan dalam kepribadiannnya. 2. Setiap orang memiliki kemampuan potensial
untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual.
Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. 3. Setiap potensi
harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun
anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri
Manusia
digerakkan oleh kebutuhan- kebutuhan dasar yang asalnya bersifat genetik. Semua
prilaku manusia mempresentasikan upaya untuk mengontrol dunia agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan
itu dengan sebaik- baiknya. Orang tidak pernah terbebas dari
kebutuhan-kebutuhannya dan, begitu terpenuhi, muncul kebutuhan lain. Kehidupan
manusia adalah perjuangan konstan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan ini
dan mengatasi konflik yang selalu muncul di antara mereka. Secara rinci Glasser
menjelaskan kebutuhan- kebutuhan dasar manusia, yaitu:
1.
Kelangsungan hidup (Survival)
Kehidupan
fisik ini bertempat di otak tua yang berlokasi di sebuah kelompok kecil
struktur yang terklaster di puncak tulang belakang. Gen orang mengistruksikan
otak tuanya untuk melaksanakan semua kegiatan yang menjaga kelangsungan hidup
yang mendukung kesehatan dan reproduksi.(kebutuhan memperoleh kesehatan,
makanan, udara, perlindungan, rasa aman, dan kenyamanan fisik).
2.
Cinta dan rasa memiliki (Love and belonging)
Salah
satu kebutuhan psikologis manusia adalah kebutuhannya untuk merasa memiliki dan
terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain. Beberapa aktivitas yang
menunjukkan kebutuhan ini antara lain: persahabatan, acara perkumpulan
tertentu, dan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan.
3.
Kekuatan atau prestasi (Power or achievemen )
Kebutuhan
akan kekuasaan (power) meliputi kebutuhan untuk berprestasi, merasa berharga,
dan mendapatkan pengakuan. Kebutuhan ini biasanya diekspresikan melalui
kompetisi dengan orang-orang di sekitar kita, memimpin, mengorganisir,
meyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin, menjadi tempat bertanya atau meminta
pendapat bagi orang lain, melontarkan ide atau gagasan dan sebagainya.
4.
Kebebasan atau kemerdekaan (Freedom or independence)
Kebebasan
(freedom) merupakan kebutuhan untuk merasakan kebebasan atau kemerdekaan dan
tidak tergantung pada orang lain, misalnya membuat pilihan (aktif pada
organisasi kemahasiswaan), memutuskan akan melanjutkan studi pada jurusan apa,
bergerak, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
5.
Kesenangan (Fun)
Merupakan
kebutuhan untuk merasa senang, dan bahagia. Pada anak-anak, terlihat dalam
aktivitas bermain. Kebutuhan ini muncul sejak dini, kemudian terus berkembang
hingga dewasa. Misalnya, berlibur untuk menghilangkan kepenatan, bersantai,
melucu, humor, dan sebagainya.
1.
Perkembangan Kepribadian Konseling Realitas 2. Struktur kepribadian
Ketika
seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, menurut Glasser orang tersebut
mencapai identitas sukses. Ini terkait dengan konsep perkembangan kepribadian
yang sehat, yang ditandai dengan berfungsinya individu dalam memenuhi kebutuhan
psikologisnya secara tepat. Dalam proses pembentukan identitas, individu
mengembangkan keterlibatan secara emosional dengan orang lain. Individu perlu
merasakan bahwa orang lain memberikan perhatian kepadanya dan berfikir bahwa
dirinya memiliki arti. Jika kebutuhan psikologisnya sejak awal tidak terpenuhi,
maka seseorang tidak mendapatkan pengalaman belajar bagaimana memenuhi
kebutuhan psikologis dirinya atau orang lain. Belajar bagaimana bertingkah laku
yang bertanggung jawab merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan anak
untuk mencapai “identitas sukses”.
Menurut
Glasser ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, orang tersebut telah
mencapai identitas sukses. Pencapaian identitas sukses ini terkait pada konsep
3R, yaitu keadaan dimana individu dapat menerima kondisi yang dihadapinya,
dicapai dengan menunjukkan total behavior (perilaku total), yakni tindakan
(acting), pikiran (thingking), perasaan (feeling), dan fisik (physiology)
secara bertanggungjawab (responsibility), sesuatu realita (reality), dan benar
(right), adapun konsep 3R yaitu:
1.
Tanggungjawab (Responsibility)
Merupakan
kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus merugikan orang
lain.
1.
Kenyataan (Reality)
Merupakan
kenyataan yang akan menjadi tantangan bagi individu untuk memenuhi
kebutuhannya. Setiap individu harus memahami bahwa ada dunia nyata, dimana
mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam rangka mengatasi masalahnya.
Realita yang dimaksud adalah sesuatu yang tersusun dari kenyataan yang ada dan
apa adanya.
1.
Kebenaran (Right)
Merupakan
ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum, sehingga tingkah laku dapat
diperbandingkan. Individu yang melakukan hal ini mampu mengevaluasi diri
sendiri bila melakukan sesuatu melalui perbandingan tersebut ia merasa nyaman
bila mampu bertingkah laku dalam tata cara yang diterima secara umum.
2.
Pribadi sehat dan bermasalah 3. Pribadi Sehat
Konseling
reality menekankan pilihan- pilihan pada setiap situasi individu memiliki
kemampuan membuat pilihan dan mempertanggung jawabkan berhasil. Status
kesehatan mental individu dapat dilihat dalam tahapan yang dialaminya, yaitu:
1.
Tahapan Kemunduran/ Regresive Stage, dibagi menjadi 3 tahap :
“Saya
Menyerah” (1 give up). Simptom-simptom (-), pada perlikau menyeluruh Kecanduan
negative = individu mengulang-ulang perilaku yang tidak efektif dan destruktif
dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
2.
Tahapan positif / Progress Stage ,terjadi 3 tahap:
“Saya
akan melakukannya”. “Saya ingin berkembang” “Saya berkomitmen untuk berubah”
Simpton-simpton positif, pada perilaku menyeluruh Kecanduan positif = ditandai
dengan perasaan berharga pada diri sendiri (self worth), konstruktif dan
kepuasan terhadap pencapaian diri sendiri.
1.
pribadi bermasalah
Pribadi
bermasalah terjadi ketika seseorang gagal dalam memenuhi kebutuhannya. Apabila
kebutuhan psikologisnya sejak awal tidak terpenuhi, maka seseorang tidak
mendapatkan pengalaman belajar bagaimana memenuhi kebutuhan psikologis dirinya
atau orang lain.
1.
Tujuan Konseling Realitas
Tujuan
utama pendekatan konseling ini untuk membantu menghubungkan (connect) atau
menghubungkan ulang (reconnected) klien dengan orang lain yang mereka pilih
untuk mendasari kualitas hidupnya. Di samping itu, konseling realitas juga
bertujuan untuk membantu klien belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara yang
lebih baik, yang meliputi kebutuhan mencintai dan dicintai, kekuasaan atau
berprestasi, kebebasan atau independensi, serta kebutuhan untuk senang.
Sehingga mereka mampu mengembangkan identitas berhasil. Tujuan konseling
realitas adalah sebagai berikut :
1.
Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan
melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 2. Mendorong konseli agar berani
bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan
dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 3. Mengembangkan
rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. 4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian
kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya
keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 5. Terapi ditekankan pada
disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.
1.
Teknik – Teknik Konseling Realitas
Konseling
Realita menggunakan banyak teknik untuk mencapai tujuan-tujuan konseling,
khususnya teknik-teknik dari perspektif konseling perilaku seperti yang telah
dikemukakan. Teori konseling realita memiliki beberapa teknik tersendiri yaitu:
Metapor
Konselor
menggunakan taknik ini seperti senyuman, imej, analogi, dan anekdot untuk
memberi konseli suatu pesan penting dalam cara yang efekitif. Konselor juga
mendengarkan dan menggunakan metapor yang ditampilkan diri konseli.
Hubungan
Menggunakan
hubungan sebagai bagian yang asensial dalam proses terapoutik. Hubungan ini
harus memperlihatkan upaya menuju perubahan, menyenagkan, positif, tidak
menilai, dan mendorong kesadaran konseli.
Pertanyaan
Konselor
menekankan evaluasi dalam perilaku total, asesmen harus berasal dari konseli
sendiri. Konselor tidak mengatakan apa yang harus dilakukan koseli, tetapi
menggunakan pertanyaan yang terstruktur dengan baik untuk membantu konseli
menilai hidupnya dan kemudian merumuskan perilaku-perilaku yang perlu dan tidak
perlu di ubah.
WDEP
& SAMI2C3
Merupakan
akronim dari wants (keinginan), direction (arahan), evaluasi (penilaian), dan
planing (rencana). Teknik ini digunakan untuk membantu konseli menilai
keinginan-keinginannya. Perilaku- perilakunya, dan kemudian merumuskan
rencana-rencana.
SAMI2C3
mempersentasikan elemen- elemen yang memaksimalkan keberhasilanya keberhasilan
rencana : mudah/ sederhana (simple), dapat dicapai (attainable), dapat diukur
(measurable), segera (immedate), melibatkan tindakan (involving), dapat
dikontrol (controled), konsisten (consistent), dan menekankan pada komitmen
(committed).
Renegosiasi
Konseli
tidak selalu dapat menjalankan rencana perilaku pilihanya. Jika ini terjadi,
maka konselor mengajak konseli untuk membuat rencana ulang dan menemukan
pilihan perilaku lain yang lebih mudah.
Intervebsi
paradoks
Terinspirasi
oleh Frankl (pendiri konselng Gestalt), Glasser menggunakan paradoks untuk
mendorong konseli menerima tanggung jawab bagi perilakunya sendiri. Intetrvensi
paradoksikal ini memiliki dua bentuk rerabel atau reframe dan paradoxical
pressciption.
Pengembangan
ketrampilan
Konselor
perlu membantu konseli mengembangkan ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan- keinginannya dalam cara yang bertanggung jawab. Koselor dapat
mengajar konseli tentang berbagai ketrampilan seperti perilaku asertif,
berfikir rasional, dan membuat rencana.
Adiksi
positif
Menurut
Glesser, merupakan teknik yang digunakan untuk menurunkan barbagai bentuk
perilaku negatif dengan cara memberikan kesiapan atau kekuatan mental,
kreatifitas, energi dan keyakinan. Contoh : mendorong olah raga yang teratur,
menulis jurnal, bermain musik, yoga, dan meditasi.
Penggunakan
kata kerja
Dimaksudkan
untuk membantu konseli agar mampu mengendalikan hidup mereka sendiri dan
membuat pilihan perilaku total yang positif. Daripada mendeskripsikan koseli
dengan kata-kata: marah, depresi, fobia, atau cemas . Konselor perlu
menggunakan kata memarahi, mendepresikan, memfobiakan, atau mencemaskan. Ini
mengimplikasikan bahwa emosi-emosi tersebut bukan merupakan keadaan yang mati
tetapi bentuk tindakan yang dapat diubah.
Konsekuensi
natural
Konselor
harus memiliki keyakinan bvahwa konseli dapat bertanggung jawab dan karena itu
dapat menerima konsekuensi dari perilakunya. Koselor tidak perlu menerima
permintaan maaf ketika konseli membuat kesalahan, tetapi juga tidak memberikan
sangsi. Alih-alih koselor lebih memusatkan pada perilaku salah atau perilaku
lain yang bisa membuat perbedaan sehingga konseli tidak perlu mengalami
kosekuensi negatif dari perilakunya yang tidak bertanggung jawab.
Terapi
realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Dalam membantu
klien dalam menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan
beberapa teknik sebagai berikut :
1.
Melakukan permainan peran dengan konseli 2. Menggunakan humor 3. Mengajukan
pertanyaan-pertanyaan 4. Tidak menerima alasan tingkah laku yang tidak
bertanggung jawab 5. Berperan sebagai model dan guru 6. Melibatkan diri pada
perjuangan konseli mencari hidup yang efektif 7. Konfrontasi tingkah laku yang
tidak realistis 8. Memberikan PR antar pertemuan dengan pertemuan berikutnya 9.
Membaca artikel yang relevan 10. Kesepakatan kontrak antara konselor dan
konseli 11. Debat konstruktif
Terapi
realitas tidak memasukkan sejumlah teknik yang secara umum diterima oleh
pendekatan-pendekatan terapi lain. Pempraktek terapi realitas berusaha membangun
kerja sama dengan para klien untuk membantu mereka dalam mencapai
tujuan-tujuannya. Teknik-teknik diagnostik tidak menjadi bagian dari terapi
realitas. Teknik-teknik lain yang tidak digunakan adalah penafsiran, pemahaman,
wawancara-wawancara non direktif, sikap diam yang berkepanjangan, asosiasi
bebas, analisis transferensi dan resistensi, dan analisis mimpi.
1.
Peran Konselor Dan Konseli Realitas 2. Konselor terlibat dengan klien dan
membawa klien menghadapi realita. Tugas utama konselor adalah menjadi terlibat
dengan konselinya dan kemudian menghadapi konseli dengan mengusahakan agar
konseli mengambil keputusan. 3. Konselor sebagai pembimbing. Konselor bertugas
melayani sebagai pembimbing untuk membantu konseli menaksir tingkahlaku mereka
secara realistis. 4. Memberi hadiah. Konselor diharapkan memberi hadiah bila
konseli berbuat dalam cara yang bertanggungjawab dan tidak menerima setiap
penghindaran atas kenyataan atau tidak mengarahkan konseli menyalahkan setiap
hal atau setiap orang. 5. Mengajar konseli Beberapa kualitas pribadi yang harus
dimiliki konselor adalah kemampuan untuk mengajar konseli, untuk mencapai
kebutuhan mereka secara terbuka, tidak untuk menerima ampunan, menunjukkan
dukungan yang terus menerus dalam membantu konseli, untuk memahami dan
mengempati konseli, dan untuk terlibat dengan tulus hati. 6. Motivator, yang
mendorong konseli untuk: a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam
perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya. b) merangsang klien untuk mampu
mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup
selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkan dirinya sendiri. 7. Penyalur
tanggung jawab, sehingga : a) keputusan terakhir berada di tangan konseli. b)
konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai
perilakunya sendiri. 8. Moralis Konselor memegang peranan untuk menentukan
kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan
memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya
akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. 9.
Pengikat janji (contractor) Artinya peranan konselor punya batas-batas
kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat
dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. 10. Kelemahan dan Kelebihan
Konseling Realitas
Kelebihan
:
1.
Asumsi mengenai tingkah laku merupakan hasil belajar. 2. Asumsi mengenai
kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan dan kematangan. 3. Konseling bertujuan
untuk mempelajari tingkah laku baru sebagai upaya untuk memperbaiki tingkah
laku malasuai. d. Klien bisa belajar tingkah laku yang lebih realistik dan
karenanya bisa tercapai keberhasilan. 4. Langsung lebih cepat menyadarkan klien
karena menggunakan secara langsung mengajak klien berbuat. f. Bersifat praktis,
luwes dan efektif. 5. Mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan pengetahuan
tentang diagnosis.
Kelemahan:
1.
Teori ini mengabaikan tentang intelegensi manusia, perbedaan individu dan
faktor genetik lain. 2. Dalam konseling kurang menekankan hubungan baik antara
konselor dan konseli, hanya sekedarnya. 3. Pemberian reinforcement jika tidak
tepat dapat mengakibatkan kecanduan atau ketergantungan. 4. Jangka waktu terapi
yang relatif pendek dan berurusan dengan masalah tingkah laku sadar pada
konseli. 5. Teknik yang digunakan kurang mampu mengungkapkan data yang dialami
dari diri pribadi klien. 6. Hanya menekankan perilaku tanpa mempertimbangkan
sisi perasaan. 7. Tidak memberikan penekanan yang cukup pada dinamika tidak
sadar dan pada masa lampau individu sebagai salah satu determinan dari tingkah
lakunya sekarang. 8. Bisa terjadi suatu tipe campur tangan yang dangkal karena
ia menggunakan kerangka yang terlampu disederhanakan.
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Pada
dasarnya konseling realitas adalah membantu individu mencapai otonomi. Otonomi
merupakan keadaan yang menyebabkan orang mampu melepaskan dukungan lingkungan
dan menggantikannya dengan dukungan pribadi atau diri sendiri (internal).
Kriteria konseling yang sukses bergantung pada tujuan yang ditentukan oleh
konseli. Dalam konseling realitas, pengalaman yang perlu dimiliki oleh konseli
adalah peran konseli memusatkan pada tingkah laku dalam proses konseling
(konseli diharapkan memusatkan pada tingkah laku mereka sebagai ganti dari
perasaan dan sikap- sikapnya), konseli membuat dan menyepakati rencana (ketika
konseli memutuskn untuk bagaimana mereka ingin berubah, mereka diharapkan untuk
mengembangkan rencana khusus untuk mengubah tingkah laku gagal ke tingkahlaku
berhasil), konseli mengevaluasi tingkah lakunya sendiri, dan konseli belajar
kecanduan positif (dalam hal ini Glasser mengungkapkan pentingnya belajar tanpa
kritik dari orang lain dalam setiap usaha kita.
1.
Saran
Sebagai
seorang calon konselor kita seharusnya mengetahui dan memahami mengenai apa
itu teknik konseling realitas, karena dapat kita pakai sebagai model serta
mengonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi
kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan diri sendiri
ataupun orang lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Corey.
Teori dan Praktik Konseling dan Psikoterapi . (Semarang
press,1995,
SEMARANG) Hal.32
Latipun.
2003. Psikologi Konseling. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
Enik
Nur Kholidah. 2013. Bahan Ajar Layanan Konseling Traumatik.
Yogyakarta:
Komalasari, Gantina. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Universitas PGRI
Yogyakarta.
http://
haelatulfitrimaulida.blogspot.com/2014/05/ makalah-konseling-realitas.html
http://materi-
bimbingankonseling.blogspot.com/2013/05/
teknik-konseling-kelompok-realitas.html
http://
triyonotriyono.blogspot.com/2013/03/ pendekatan-konseling-realitas dalam.htm
http://
konselingzone.blogspot.com/2012/04/ konseling-realita.html
Live Baccarat, the newest live roulette to play now
BalasHapusLive roulette 바카라 is one febcasino of the most popular games at the casino industry. This 1xbet is the fastest-growing game market with over 3 million players worldwide.